Yayasan Praja Hadipuran Manunggal, Pakasa Jepara dan Senapati Nusantara
Rangkaian Grebeg Mulud Njeporonan 2026 Berlangsung Semarak dan Sakral
Panemwaja Exhibition 2026, Festival Empu Wesi Aji Jepara salahsatu Rangkaian Acara Grebeg Mulud Njeporonan 2026, “Nyawiji, Ngabekti, Ambangun Nagari Nganti Tata lan Tradisi” Kamis - Sabtu, 20-22 Agustus 2026.

JEPARA | JEPARANEWS – Selaras dengan tema Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-81, “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia”, serta tema Grebeg Mulud Njeporonan 2026, “Nyawiji, Ngabekti, Ambangun Nagari Nganti Tata lan Tradisi”, rangkaian kegiatan Grebeg Mulud Njeporonan 2026 berlangsung semarak sekaligus sarat nilai budaya dan spiritual.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 20–22 Agustus 2026, tersebut juga bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.




Berbagai kegiatan digelar, mulai dari Kenduri Ruwat Bumi, Panemwaja Exhibition 2026, jamasan pusaka, bedol pusaka, Kirab Pusaka “Sad Wisati Nagari”, Pisowanan Agung, hingga Grebeg Gunungan. Rangkaian kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan pagelaran seni dan budaya.

Kenduri Ruwat Bumi
Rangkaian acara diawali pada Kamis malam (20/08/2026) di Pendopo Kabupaten Jepara melalui kegiatan Kenduri Ruwat Bumi.
Kegiatan tersebut diiringi pembacaan Barzanji atau Maulid Al-Barzanji, penyatuan air dan tanah, Tahtimul Qur'an atau khataman Al-Qur'an, pembacaan doa dan kidung, serta pemasangan cuk bakal di Ringin Pojok Alun-alun Jepara.
Kegiatan dihadiri Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat, KRT Hendro Suryo Kartiko dari Yayasan Marga Langit Jepara, perwakilan Polres Jepara, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta sejumlah tamu undangan.
Ketua Yayasan Praja Hadipuran Manunggal (ProHaMa), KRT Anam Setyonagoro, menjelaskan bahwa cuk bakal merupakan simbol tradisi Jawa yang mengandung filosofi tentang permulaan kehidupan, rasa syukur, keselamatan, dan harapan akan keberkahan.
“Cuk bakal simbol permulaan hidup yang melibatkan hubungan Tuhan dengan manusia atau sangkan paraning dumadi. Masyarakat Jawa menggunakan cuk bakal sebagai media awal sebelum melakukan suatu kegiatan sebagai sarana sedekah dan rasa syukur agar diberi kelancaran,” ujar Anam.
Panemwaja Exhibition 2026

Pada Jumat (21/08/2026), bertempat di Pendopo Museum Kartini Jepara, digelar Panemwaja Exhibition 2026, Festival Empu Wesi Aji Jepara.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara (Panemwaja) bersama Yayasan Praja Hadipuran Manunggal dan didukung Pemerintah Kabupaten Jepara, Disparbud Jepara, Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Jepara, Senapati Nusantara, Perkumpulan Pelestari Tosan Aji Jepara (PPTAJ), mahasiswa Program Studi Senjata Tradisional Keris Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, SMK Negeri 1 Pakis Aji, serta Paguyuban Cakra Bumi Jepara.

Panemwaja Exhibition 2026 diisi berbagai kegiatan, antara lain pagelaran sendratari oleh pelajar SMK Negeri 1 Pakis Aji, pengukuhan pengurus Senapati Nusantara Jepara, sarasehan keris, pertunjukan musik campursari, pembukaan pameran keris dan tosan aji, serta atraksi langsung penempaan senjata pusaka oleh empu dari Panemwaja.
Dalam kesempatan tersebut, Wasekjen Senapati Nusantara, Nurjianto yang akrab disapa Gus Poleng, mengukuhkan KRA Bambang Setiawan Adiningrat sebagai Ketua Senapati Nusantara Jepara.
Nurjianto mengatakan, perkembangan regenerasi empu di Jepara cukup baik, khususnya di Pulau Jawa. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Jepara turut mendukung kegiatan Senapati Nusantara Jepara sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut melestarikan keris sebagai warisan budaya.
“Kita juga berharap Pemkab Jepara ikut membantu Senapati Nusantara Jepara dan mendorong generasi muda untuk melestarikan keris yang termasuk warisan budaya tak benda dan ditetapkan oleh UNESCO,” jelasnya.

Sementara itu, KRA Bambang Setiawan Adiningrat menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan sarasehan keris.
Menurutnya, melalui sarasehan dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidang keris dan tosan aji, masyarakat diharapkan semakin memahami jenis, fungsi, filosofi, dan nilai budaya keris sebagai pusaka warisan leluhur.
Sarasehan Keris
Sarasehan mengangkat tema “Melihat Kembali Pusaka Gaya Pesisiran” dengan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Ki Arya Pandhu, pengelola Museum dan Galeri Sanggar Keris Mataram (SKM) Yogyakarta, Mansyur Hidayat, Ketua Harian Senapati Nusantara, Empu Tumaji dari Desa Mayong Lor, Empu Keman, Ketua Panemwaja serta Dr. Purwadi, peneliti sejarah dan budaya Jawa.
Suasana sarasehan semakin meriah ketika Dr. Purwadi beberapa kali membawakan tembang macapat.
Dalam pemaparannya, Mansyur Hidayat mengulas eksistensi keris yang kini mengalami perkembangan fungsi, dari senjata tikam tradisional menjadi karya seni, simbol identitas, sekaligus warisan budaya leluhur.
Ia menjelaskan bahwa UNESCO telah mengakui keris sebagai bagian dari warisan budaya takbenda dunia sejak 25 November 2005. Menurutnya, eksistensi keris tetap kuat karena memiliki nilai estetika dan filosofi yang tinggi serta terus mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam upaya pelestariannya.
Kegiatan di Museum Kartini Jepara tersebut juga dihadiri H. Mutahar dan Soni dari Paguyuban Cakra Bumi Jepara, para pembursa, Ketua Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Jepara, KRA Bambang Setiawan Adiningrat, KRT Anam Setyonagoro, serta para pemerhati dan pelestari tosan aji.
Kirab Pusaka “Sad Wisati Nagari”
Sementara itu, berdasarkan agenda Grebeg Mulud Njeporonan 2026, Sabtu (22/08/2026) pagi hingga malam dilaksanakan rangkaian kegiatan jamasan pusaka di Pendopo Kabupaten Jepara dan bedol pusaka.
Pada malam harinya, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, dilaksanakan Kirab Pusaka “Sad Wisati Nagari” dengan titik keberangkatan dari Gapura Desa Mantingan menuju Pendopo Kabupaten Jepara.
Kirab tersebut menampilkan 26 tombak pusaka yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Grebeg Mulud Njeporonan 2026.
Setibanya di Pendopo Kabupaten Jepara, rangkaian dilanjutkan dengan Pisowanan Agung, serah terima secara seremonial pusaka tombak dengan memanjatkan doa keselamatan, serta penyerahan pusaka karya putra Jepara.
Selanjutnya dilaksanakan boyongan 26 tombak pusaka dan ditutup dengan Grebeg Gunungan.
Pagelaran Budaya
Untuk semakin memeriahkan Grebeg Mulud Njeporonan 2026, di depan Pendopo Kabupaten Jepara juga telah disiapkan panggung pagelaran budaya.
Sejumlah sanggar seni dijadwalkan tampil, antara lain Sanggar Wahyu Kawedar, Sanggar Krida Budaya Sukodono, Sanggar Krida Kumala PGSD Unisnu Jepara, serta Sanggar Kirana Citraloka Ponorogo.
Rangkaian Grebeg Mulud Njeporonan 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah, tradisi, pusaka, seni, dan budaya Jepara.
Semangat “Nyawiji, Ngabekti, Ambangun Nagari Nganti Tata lan Tradisi” menjadi pesan penting bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan semangat persatuan dan pembangunan daerah, khususnya dalam momentum Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Editor :Eko Mulyantoro
Source : Yayasan Praja Hadipuran Manunggal